Budaya Belajar di Jerman: Guru Bukanlah Dewa?Foto oleh RDNE Stock project: Buku-buku, siswa, membaca, belajar.

Jerman, setelah mengalami destruksi dalam Perang Dunia II, menemukan bahwa Jerman sendiri berada dalam kondisi yang membutuhkan transformasi besar-besaran, khususnya dalam ranah pendidikan. Menghadapi pengaruh negatif sejarah kelam, masyarakat Jerman berkomitmen untuk membangun sistem pendidikan yang tangguh, memastikan tidak ada kesalahan serupa yang terulang. Dari sini muncul budaya belajar di Jerman yang tidak hanya unik tetapi juga efektif, membangun dasar yang kokoh untuk kesejahteraan dan kejayaan bangsa.

Baca Juga: Museum Samurai Berlin: Jejak Ksatria Jepang di Jerman

Pendidikan sebagai Pemahaman Sejarah dan Pemisahan Kekuasaan

Masyarakat Jerman menggambarkan pemahaman yang mendalam terhadap sejarah kelam mereka. Periode Perang Dunia II, di mana Jerman mengalami kekalahan, menjadi landasan untuk membangun mental dan karakter yang kuat. Pemisahan kekuasaan, terutama di bidang pendidikan, menjadi fokus utama untuk mencegah konsentrasi kekuatan pada satu lembaga atau individu, menghindari pengulangan kesalahan masa lalu yang terjadi karena pengaruh absolut Hitler.

Budaya Belajar di Jerman: Aktif dan Dua Arah

  1. Brainstorming dan Interaksi Guru-Siswa: Sistem pendidikan Jerman mempromosikan pembelajaran aktif dan interaksi dua arah antara guru dan siswa. Berbeda dengan model tradisional di Indonesia, di Jerman, guru dan siswa terlibat dalam proses brainstorming, di mana pendapat siswa dihargai sebelum materi lebih lanjut dijelaskan. Suasana ini menciptakan ruang untuk pertanyaan dan pemikiran kritis.
  2. Kacamata Jerman: Budaya Jerman memandang dunia dengan kacamata yang tidak hitam atau putih. Tidak ada pandangan mutlak tentang benar atau salah. Siswa diajarkan untuk melihat suatu konsep atau permasalahan sebagai bagian dari spektrum yang luas, menciptakan pemikiran yang nuansawan dan terbuka terhadap perbedaan.

Fokus pada Kemajuan dan Pujian

  1. Feedback Positif dan “Sandwich Feedback”: Budaya pujian dan pengakuan terhadap kemajuan menjadi landasan dalam memberikan umpan balik. Sebelum menyampaikan kritik, guru atau pengajar selalu memberikan pujian, menciptakan suasana yang mendukung perkembangan peserta didik. Konsep “sandwich feedback” diaplikasikan, di mana kritik diselipkan di antara pujian agar lebih mudah diterima.
  2. Diskusi Terbuka dan Rasa Hormat: Terdapat rasa hormat terhadap perbedaan pendapat. Diskusi bukan hanya dihargai tetapi juga diupayakan, bahkan jika pendapat berbeda dengan guru. Hal ini menciptakan lingkungan di mana siswa merasa dihargai dan didorong untuk tumbuh.

Budaya Kedisiplinan yang Berbasis Jadwal di Jerman

  1. Rencana Jadwal yang Ketat: Kedisiplinan dalam hal jadwal menjadi ciri khas pendidikan Jerman. Baik dalam belajar maupun aktivitas sehari-hari, setiap hal mereka jadwalkan dengan ketat. Bahkan anak-anak TK memiliki jadwal untuk bermain di rumah teman mereka.
  2. Hak dan Kewajiban: Disiplin bukan hanya soal kewajiban, tetapi juga hak. Kedisiplinan terlihat dalam hak untuk menikmati liburan tanpa tugas, menciptakan keseimbangan antara tanggung jawab dan hak untuk bersantai.

Jerman Memiliki Budaya Semangat Belajar dan Cinta Ilmu yang Luar Biasa

  1. Leidenschaft atau Passion: Semangat belajar, atau “Leidenschaft,” menjadi poin penting dalam budaya pendidikan Jerman. Masyarakatnya mencintai ilmu pengetahuan dan senang berbagi pengetahuan, menciptakan lingkungan yang kaya akan informasi dan pemikiran.
  2. Budaya Besserwisser: Masyarakat Jerman, secara umum, terakui sebagai “Besserwisser” atau yang selalu tahu lebih banyak. Setiap individu memiliki wawasan yang unik dan berkontribusi pada pembelajaran kolektif.

Kurikulum Pendidikan yang Terstruktur

  1. Tujuan dan Silabus: Kurikulum pendidikan Jerman ditetapkan melalui tujuan umum dan diatur oleh peraturan sekolah. Silabus, metode pengajaran, dan rencana pelajaran diperumit oleh kementerian negara, menciptakan kerangka kerja yang terstruktur.
  2. Pendekatan “Student-Centered”: Pendekatan pembelajaran berorientasi murid memberikan kebebasan kepada siswa untuk mengejar minat dan potensi mereka. Sistem “teacher-centered” mereka ganti oleh fokus pada pertumbuhan dan pembelajaran yang lebih mandiri.

Manajemen Pendidikan yang Kolaboratif

  1. Standarisasi Nasional: Perbedaan dalam sistem pendidikan negara bagian diatasi melalui standarisasi nasional pada tahun 1969. Kerjasama antara pemerintah federal dan negara bagian menciptakan kerangka kerja yang seimbang untuk pembangunan pendidikan.
  2. Biaya Pendidikan yang Terjangkau: Pembiayaan pendidikan terbagi proporsional antara pemerintah federal dan negara bagian, memastikan biaya pendidikan tetap terjangkau. Bahkan, biaya kuliah di Jerman relatif rendah, dengan pengecualian “Sozialgebuhren” untuk beberapa fasilitas tambahan.

Kesimpulan: Budaya Belajar di Jerman

Secara keseluruhan, sistem pendidikan di Jerman menciptakan fondasi yang kuat melalui kombinasi kebijakan yang cermat dan budaya belajar yang progresif. Dengan mengejar pembelajaran aktif, penghormatan terhadap perbedaan, dan fokus pada pengembangan karakter, Jerman berhasil membangun masyarakat yang mandiri dan juga siap menghadapi perubahan global. Indonesia dapat mengambil inspirasi dari pendekatan ini dengan memperkuat pendidikan yang berorientasi pada siswa, mempromosikan kebebasan berpikir, serta melibatkan peran keluarga dan masyarakat secara aktif. Pendidikan, baik sebagai kebijakan maupun budaya, menjadi kunci untuk membentuk generasi yang tidak hanya cerdas secara akademis tetapi juga kritis, kreatif, dan berdaya saing di tingkat global.

Pembenahan karakter pendidikan tidak hanya menjadi tugas pemerintah dan guru, melainkan bermula dari tingkat keluarga. Diskusi yang rasional dan terbuka menjadi kunci untuk menciptakan generasi yang kritis dan bertanggung jawab. Melalui pendekatan ini, harapan akan munculnya pujangga dan juga pemikir di Indonesia.

Sumber Terkait:

Tertarik Mencari Pengalaman Baru di Jerman?

Apakah Anda merasa sulit dengan persiapan bahasa Jerman di Indonesia? Yuk! ikuti Asrama Persiapan dan Budaya Bahasa Jerman di Indonesia sampai B2 dengan CVGEN.

Jerman sedang kekurangan banyak tenaga kerja, loh. Berita di atas membuktikan! Maka dari itu, CVGEN (sebagai tenaga support Jerman) siap membimbing kamu untuk menempuh karir di Jerman tanpa agen.

Yuk! Ikutan dengan program ini :

  • Ausbildung (Sekolah profesi sambil bekerja di Jerman)
  • Relawan (FSJ, BFD)
  • Profesional ( Bekerja di bidang IT, Engineer, Tenaga Medis (Perawat))

CVGEN juga bekerjasama dengan Mina Mulia. Memberikan layanan konsultasi dan juga coaching, untuk tujuan tour, study, menetap sebagai pasangan atau berkarir ke Jerman. Gratis! (Kunjungi: Mina Mulia).

Selanjutnya, silahkan Hubungi +62 852-9864-9951 atau kunjungi website cv-gen.com atau email ami@cv-gen.com.

Kemudian, jika membutuhkan Jasa membuat CV atau ingin otomatis membuat CV gratis ke PDF dari Website, langsung saja ke Resume CVGEN.

Yuk, Ikutan Juga Grup dan Komunitas Indonesia di Jerman


Kabar gembira untuk Anda yang mungkin ingin mencari koneksi, teman atau informasi-informasi lainnya seputar Jerman, nih. Anda bisa gabung di sini :

Ingin Menikmati Weekend Seru dan Unik di Jerman?

Berikut rekomendasi keren tempat dan pesan tiket transportasi di Jerman :

By Neisya Putri Rahmawati

INFP-T | Prokopton

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *